Categories
Update

Ada Balon Udara Jatuh di Daerah Bandara Ahmad Yani, AirNav Terbitkan Notam

jpnn. com, JAKARTA – AirNav Indonesia meluluskan peringatan kepada pilot untuk mewaspadai adanya gangguan balon udara liar melalui penerbitan notice to airmen (NOTAM) nomor A1165/20 NOTAMN. Direktur Utama AirNav Indonesia, M. Pramintohadi Sukarno mengutarakan pihaknya terus memberikan informasi terkini kepada stakeholder penerbangan terkait dengan kondisi belakang di ruang udara yang terpantau terdapat balon udara liar.

jpnn. com , JAKARTA – AirNav Nusantara memberi peringatan kepada pilot buat mewaspadai adanya gangguan balon hawa liar melalui penerbitan  notice to airmen  (NOTAM) nomor A1165/20 NOTAMN.

Direktur Utama AirNav Indonesia, M. Pramintohadi Sukarno mengutarakan pihaknya terus memberikan informasi terkini kepada  stakeholder  penerbangan terkait secara kondisi terakhir di ruang suasana yang terpantau terdapat balon hawa liar.

“NOTAM yang kami terbitkan berisi melanda peringatan kepada para pilot yang melawati ruang udara di wilayah Pekalongan, Wonosobo, Parakan dan Kajen. Kami memperingatkan agar para penerbang yang melewati area ruang udara tersebut berhati-hati. Ketinggian balon hawa liar diperkirakan mulai dari 0 – 28. 000 kaki secara arah dan kecepatan terbang yang tidak diketahui, ” ungkap Pramintohadi.

Baca Serupa:

AirNav Indonesia hingga saat tersebut belum mendapatkan laporan pilot (pilot report) yang menyatakan melihat globe udara di area ruang udara tersebut. Meski begitu, ada sebuah balon udara yang jatuh dalam area Bandara Jenderal Ahmad Menjalankan, Semarang pada Minggu (24/5) cerai-berai.

Untuk tersebut, Pramintohadi mengingatkan kepada para karakter penerbangan balon udara liar kalau penerbangan balon udara liar itu sangat mengancam keselamatan penerbangan & terdapat sanksi tegas yang menanti pelaku.

“Kami kembali mengingatkan kepada para karakter penerbangan balon liar aparat penegak hukum bisa memberikan sanksi kejahatan bagi pihak-pihak yang mengancam keselamatan penerbangan sesuai dengan yang diatur di dalam Undang-Undang nomor 1 tahun 2009 tentang penerbangan. Pencetus 411 menyatakan bahwa terdapat ancaman pidana penjara paling lama dua tahun dan denda paling banyak Rp500 juta, ” ujarnya.

Baca Juga:

Pramintohadi mengatakan bahwa terdapat aturan yang harus dipatuhi dalam menerbangkan balon udara ditambatkan yang dijelaskan dalam PM 40 Tahun 2018 tentang penggunaan balon udara di kegiatan budaya masyarakat.

Namun, beberapa pemerintah wilayah bahkan saat ini sudah melarang penerbangan balon udara dengan ditambatkan, karena kondisi pandemi COVID-19 & upaya untuk mengimplementasikan jaga jangka.